Konseling Kelompok

Konseling Kelompok

Konseling Kelompok adalah suatu jenis aktivitas kelompok, berciri proses antarpribadi yang dinamis, berfokus pada kesadaran pikiran dan tingkahlaku yang melibatkan fungsi-fungsi terapi; menyediakan bantuan konseling secara serentak pada 4 – 12 orang konseli normal mengelola masalah-masalah penyesuaian dan keprihatinan perkembangan, pemecahan bersama berbagai bidang masalah sosiopsikologis individu dalam kelompok. Konseling kelompok mempunyai tujuan pokok menciptakan suasana bantuan antarpribadi yang memungkinkan tiap individu mengembangkan insight pada dirinya sendiri dan mencapai penyesuaian personal yang lebih sehat; dapat pula menekankan masalah perkembangan, pelibatan pilihan dan nilai, sikap dan emosi, bersifat pencegahan dan penyembuhan masalah. Struktur kelompok dalam konseling kelompok adalah suatu konsep yang multidimensional dan secara potensial berguna membangkitkan proses unduh disini Kelompok enkonter, dalam konseling, menunjuk pada aktivitas ‘temu-rasa’ yang terkelola secara kelompok; secara khusus menunjuk pada salah satu tahap penting dalam ‘kelompok temu-rasa’, dalam mana semua anggota secara ‘cair’ menceriterakan diri secara bebas, terbuka, lepas dari rasa terancam dan rasa curiga di antara teman kelompok; kelompok enkonter senantiasa berlangsung dalam hubungan antarpribadi banyak orang, bukan berduaan. Kelompok pembuatan keputusan, pada awal-awal perkembangan konseling, menunjuk pada suatu proses mencapai keputusan bersama-sama yang melibatkan dorongan konsensus dan konformitas selaku tambahan dalam proses pengambilan keputusan bersama; pada era mutakhir, penekanan diletakkan lebih pada latihan pengambilan keputusan sebelum individu secara nyata menghadapi masalah aneka aspek kehidupan di kemudian hari. ‘Struktur kelompok’ bukanlah konstruk yang unidimensional yang membentang dari struktur ambigu ke struktur tegas melainkan termasuk struktur implisit yang tentu adanya meskipun itu seolah-olah tidak terstruktur. Di dalamnya, pemimpin perlu ambil bagian dalam struktur kelompok, terutama pada tahap awal kelompok, yaitu pemakaian teknik direktif guna menegaskan tujuan, mengorientasikan kelompok menuju ekspektasi, dan mengomunikasikan aturan dan prosedur dasar. Kerja kelompok adalah strategi pelaksanaan suatu program; menekankan pada penyelesaian program yang dibawakan oleh kelompok, dalam mana berlangsung konsultasi dengan pimpinan yang mengarahkan kelompok ke suatu tujuan yang diterima masyarakat; aktivitas kreatif dikerahkan untuk menyediakan saluran pantas bagi ekspresi-diri dan peredaan stres emosional anggota. Taraf kesuksesan dan kepuasan anggota adalah sangat bergantung pada kerjasama dan koordinasi yang diciptakan anggota di bawah arahan pimpinan kelompok. Belakangan digunakan pula oleh konselor berbagai pendekatan sebagai tindak-lanjut suatu program penyembuhan kelompok. Kelompok berorientasi kerja, dalam konseling kelompok, menunjuk pada satu jenis kelompok yang mengurusi satu masalah spesifik untuk dipecahkan atau satu tugas khusus yang akan dikerjakan. Pemikiran kelompok menunjuk pada pemikiran kelompok, kecenderungan yang ada pada kelompok untuk mengambil keputusan kompromi karena konformitas dan pendalaman pemikiran kritis dalam kerompok; atau dengan acuan lain, suatu kesepakatan yang dicapai melalui kekuatan persuasif internal kelompok. Pemikiran kelompok demikian merupakan suatu cara berpikir yang tidak dikehendaki dalam konseling kelompok dalam mana individu semestinya bertumbuh dan berfikir menurut kekhasan pribadi masing-masing.

Konselor menunjuk pada petugas profesional di bidang konseling yang memiliki sejumlah kompetensi dan karakteristik pribadi khusus yang diperoleh melalui pendidikan profesional; dengan kompetensi khususnya membantu orang (disebut konseli atau klien) dalam mencapai perkembangan optimal; termasuk kompetensi melakukan interviu dan diagnosis, dan implementasi strategi pengubahan. Dasar-dasar kompetensi itu diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan khusus dan berkembang dalam pengalaman praktik; aslinya, menurut sejarah dan proses perkembangannya, konselor berpendidikan profesional demikian diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan dalam lembaga pendidikan tenaga kependidikan. Konselor sekolah pada seseorang yang berperan dan berfungsi resmi memberi bantuan konseling profesional untuk murid dan pemuda-pelajar dalam latar sekolah, pengelolaan operasional program-program bimbingan konseling sekolah. Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Masing-masing kualifikasi pendidik, termasuk konselor, memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja. Standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor dikembangkan dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Ekspektasi kinerja konselor dalam menyelenggarakan pelayanan ahli bimbingan dan konseling senantiasa digerakkan oleh motif altruistik, sikap empatik, menghormati keragaman, serta mengutamakan kepentingan konseli, dengan selalu mencermati dampak jangka panjang dari pelayanan yang diberikan. Ekspektasi kinerja konselor mencakup setting layanan, wilayah layanan, dan konteks tugas. Setting layanan yang diampu oleh Konselor sebagai Pendidik yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan, adalah setting pendidikan khususnya pada jalur pendidikan formal, yang juga mewadahi layanan Guru sebagai Pendidik, namun yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan. Pelayanan konselor yang memandrikan khususnya dalam jalur pendidikan formal yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan inilah yang dijadikan fokus. Pembedaan wilayah layanan di antara guru dan konselor dalam jalur pendidikan formal ini, tidak merupakan pemisahan, sebab demi pencapaian misi sekolah dengan sebaik-baiknya, disyaratkan adanya keterhubungan di antara pemangku layanan dalam ketiga wilayah layanan. Di Indonesia, kelompok Konselor dan Pendidik Konselor telah menghimpun diri dalam suatu asosiasi profesi yang mula-mula dinamakan Ikatan Petugas Bimbingan dan Konseling, dan kemudian berubah nama menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN). Ada tiga wilayah layanan konselor, yaitu layanan (a) administrasi dan manajemen, (b) kurikulum dan pembelajaran, dan (c) bimbingan dan konseling. Konteks tugas konselor berada dalam kawasan pelayanan yang bertujuan mengembangkan potensi dan memandirikan konseli dalam pengambilan keputusan dan pilihan untuk mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Pelayanan dimaksud adalah pelayanan bimbingan dan konseling. Konselor adalah pengampu pelayanan ahli bimbingan dan konseling, terutama dalam jalur pendidikan formal dan nonformal. Konteks tugas konselor konselor profesional mencakup “wilayah layanan yang bertujuan memandirikan individu yang normal dan sehat dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengambilan keputusan termasuk yang terkait dengan keperluan untuk memilih, meraih serta mempertahankan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera, serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum (the common good) melalui pendidikan” (sternberg, 2003). Konselor memang diharapkan untuk berperan serta dalam bingkai layanan yang komplementer dengan layanan guru, baik melalui penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan yang dilakukan dalam wilayah layanannya, maupun secara bahu-membahu dengan guru dalam pengelolaan kegiatan ekstra kurikuler dalam setting pendidikan.

Paradigma Konseling suatu sistem pembagian konseling ke dalam empat rumpun besar berdasarkan rumpun teori yang dijadikan landasan kerja, yaitu paradigma organik-medikal, paradigma psikologis, paradigma sistemik relasional, dan paradigma konsensus-kontekstual, dalam kategori R. Rocco Cottone. Paradigma organik-medikal adalah berlandaskan pada keyakinan bahwa hakekat realitas (ontologi) manusia adalah kebendaan fisik, dan fokus studi untuk mengetahui (epistemologi) perilaku manusia pada faktor-faktor biologis, kimiawi dan berbagai hal fisik lain yang berpengaruh pada tingkahlaku. Paradigma ini menggunakan model psikopatologi dan kesakitan mental dengan ciri menerapkan: pertama, asumsi adanya penyebab organismik; kedua, asumsi khusus organik mengenai metode diagnostik, dan ketiga metode khas medik dalam tritmen; dasar keahlian konselor adalah psikiatris dengan teori dasar “Psychiatric Case Management”; selain Freud yang dipandang sebagai “Bapak” paradigma ini yang juga dikleim sebagai tokoh besar paradigma psikologis, paradigma organik-medik berassosiasi dengan dua tokoh sebelum Freud yaitu Emil Kraepelin. Paradigma psikologis berlandas-kerja teori-teori psikologi, di dalamnya terkandung sejumlah orientasi konseling dan psikoterapi (orientasi pemikiran, perasaan, dan tindakan), meyakini hakekat realitas (ontologi) manusia adalah benda fisik dan terutama nonfisik dengan fokus studi (epistemologi) terutama pada hal-hal nonfisik internal dan eksternal yang mempengaruhi tingkahlaku; sebuah kategori berdasarkan pada karya Cottone. Paradigma sistemik-relasional menunjuk pada paradigma ketiga konseling dan psikoterapi menurut Cottone, didasari oleh filosofi sistem dunia, atau teori sistem umum, oleh Ludwig von Bertalanffy (konsepsi organismik), dan teori sosiologi makro misalnya teori sistem dalam Talcott Parsons (struktur aksi sosial); meyakini hakekat realitas (ontologi) manusia adalah jaringan interaksi, dan fokus studi memahami manusia (epistemologi) terutama pada hubungan sebagai hal yang esensial bagi tingkahlaku; penganutnya terutama adalah terapis perkawinan dan keluarga, dengan contoh teori Structural Family Therapy, dan Strategic Family Therapy; juga berassosiasi dengan L. Hoffman, H. R. Maturana, G. Bateson dan Paul Watzlawick.. Paradigma konsensus-kontekstual merupakan paradigma keempat menurut Cottone, cukup baru dalam konseling dan psikoterapi yang dilatarbelakangi oleh filosofi kontekstualisme dan dimajukan oleh pergerakan feminisme kritik, meyakini hakekat realitas (ontologi) manusia adalah perubahan dan proses serta fokus studi (epistemologi) adalah proses konsensus manusia selaku proses yang menstruktur-menerus (enstructuring process); teori pendukungnya adalah sosiologi mikro dan feminisme kritik di samping psikologi sosial, diterapkan terutama dalam konseling dan terapi keluarga. Para penganut dan pelaksananya adalah konselor profesional; Contoh teori adalah ‘Cognitive – Consensual Therapy’; berlandaskan pada pemikiran filosof S. C. Pepper, juga berassosiasi dengan upaya J. Colapinto.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: